skip to Main Content
Need Help? WA: +62 816-1617-097
previous arrow
next arrow
previous arrownext arrow
Slider

Vasudhaiva Kutumbhakam – To Disseminate the Vedic and Dharmic Values of Oneness

www.vedicdharmicstudies.org

Anand Krishna

Proud of his Sindhi-Indian ancestry rooted in the Glorious Sindhu Civilization and Culture, also referred to as Shintu, Hindu, Indus, and Hindia – of which Nusantara or the Indonesian Archipelago has been a part since ancient times – Anand Krishna was born in Solo (Central Java), which, as predicted by the Śukā Nādi (thousands of years old oracle), is his Karma Bhumi, his workfield.

Dr. Rajendra Prasad, the first President of India remarked upon seeing the child Krishna, “This is not ordinary boy”. The prediction has come true. Standing high as the legendary Mount Meru, Anand Krishna wavers not an inch from his course of action, inspite of all kinds of trials and turbulences.

Beside the mother Organization, Anand Ashram Foundation (affiliated with UN), Anand Krishna has inspired several other social and educational institutions.

The 4th President of Indonesia, KH Abdurrahman Wahid recognized his contributions and said, “If we want to have peace, then we must hear what Anand Krishna is saying”. 

He has a legacy of 170+ books to date with more than 1.5 million copies sold in the past 20 years. People of all faiths attending his talks is a running commentary to his vision “One Earth, One Sky, One Humankind” – his interpretation of an age old Sanskrit Maxim, “Vasudaiva Kutumbakam”, this entire world is but one big family.

ReadMore

Vision & Mission

The mission of Centre for Vedic and Dharmic Studies is Vasudhaiva Kutumbhakam – To Disseminate the Vedic and Dharmic Values of Oneness.

Our main activities are publishing books, organizing workshops, self-empowerment, meditation, yoga, and awarding scholarship for studying Veda in Indonesia and India

CONTACT US

Jln. Pulogebang Raya
The Royal Residence C2 /10
Pulogebang – Cakung Jakarta Timur (13960)

Latest Published Books

Sahabat Setia

Kisah-kisah Inspiratif Lintas Tradisi untuk Menemani Anda

“Janganlah membaca buku ini jika Anda belum siap untuk mendengar pendapat yang berbeda dari sudut pandang Anda selama ini.”

Ibarat dua sisi dari kepingan uang logam, Persahabatan tidak dapat dipisahkan dari Kesetiaan. Seorang Sahabat Sejati sudah pasti setia, atau bukan sahabat.

Sayang banyak di antara kita tidak memahami arti kata setia yang berasal dari Satya atau Kebenaran. Seorang Sahabat Sejati tak pernah memasang topeng kepedulian semu atau menutupi kepentingannya di balik rasa iba atau kasihan.

Pertanyaannya, bagaimana mendapatkan seorang Sahabat Sejati seperti itu? Guru mengingatkan bahwa hanyalah Gusti yang dapat diandalkan sebagai Sahabat Sejati, dan “ketika jiwamu tersadarkan bahwa mereka yang selama ini kau anggap sebagai sahabat memiliki kepentingan masing-masing – maka Ia akan Mewujud dan Memandumu sebagai seorang Sakha, seorang Sahabat Sejati.”

Beliau juga selalu mengingatkan, “Wujud-Nya beragam, tak terhitung jumlahnya…”
Maka, hendaknya kita tidak kaget jika saat ini ia berwujud sebagai coretan-coretan di dalam buku ini, untuk memandu kita… Semoga!

Jatuh, Bangun, Jatuh lagi dan Bangun Kembali

Perayaan 50 tahun perjalanan bersama Guru Sejati.

Apa arti 50 tahun dalam sejarah umat manusia? Apalagi, jika ditambahkan prasejarah yang tidak tercatat? Namun, dalam satu episode kehidupan manusia – yang bagi Manusia Indonesia rata-ratanya adalah 70-an tahun – 50 tahun sungguh sangat berarti, lebih dari dua pertiga ekspektasi hidupnya!.

Tahun 2022 ini, penulis merayakan kebersamaanya dengan seorang Guru Sejati selama setengah abad. Baginya, ini adalah Perayaan Besar, Golden Jubilee, pengalaman Jatuh, Bangun, Jatuh lagi dan Bangun Kembali selama 50 tahun. Namun, di saat yang sama setiap pengalaman itu mengajarkan sesuatu yang sangat berharga.

Seorang saudara seperguruan penulis mengaku, “Pengalaman bersama Guru di depan umum bagaikan sinar matahari yang diperuntukkan bagi semua. Pengalaman-pengalaman pribadi di dalam kompilasi ini bagaikan cahaya pelita yang menerangi rumah jiwa dan hati kita terdalam. Terima kasih telah berbagi pengalaman-pengalaman yang bersifat sangat personal sekaligus mencerahkan, menjelaskan sisi lain dari seorang Guru yang senantiasa mengikuti perkembangan jiwa setiap siswanya.”

Setiap kisah dalam buku ini ibarat permata yang tak terhingga nilainya. Kita butuh sepasang mata Jauhari-Batin untuk mengapresiasinya. Semoga kita semua dianugerahi dengan sepasang mata seperti itu.

Diperuntukkan HANYA bagi Pembaca yang DAPAT MENERIMA PERBEDAAN & PANDANGAN

GURU YOGA MELANGKAH BERSAMA SANG GURU SEJATI

Guru Yoga
Melangkah Bersama Sang Guru Sejati

Sadhguru bukan nama orang, bukan sekadar persona, sebagaimana sering disalahpahami selama ini, tetapi sebuah prinsip, prinsip Kesejatian Diri.

Sadhguru atau Guru Sejati bersemayam dalam diri setiap makhluk, bukan manusia saja dan, meliputi seantero alam.

Buku ini adalah tentang pertemuan dengan Sang Guru Sejati seperti itu. Persis seperti pertemuan para shishya dengan Guru mereka dalam tradisi Upanishad/Vedanta. Atau, pertemuan para murid dalam tradisi Sophie, yang ber-murad, berniat tunggal untuk menemukan Jati Diri mereka.

Buku ini adalah tentang Gnothi Seauton atau Mengenal Diri dalam tradisi Yunani Kuno. Bacalah buku ini atas resiko sendiri – sebab ia yang mengenal dirinya mengenal Gusti; dan mengenal Gusti dapat merontokkan perkenalan-perkenalan dan identitas diri sebelumnya yang tidak berarti!

 

Diperuntukkan HANYA bagi Pembaca yang DAPAT MENERIMA PERBEDAAN & PANDANGAN

KEARIFAN LOKAL BALI

“… jika Anda percaya ungkapan klasik, bonus liber optimus magister (buku bermutu adalah guru yang baik), buku ini mestinya masuk dalam daftar “wajib baca” Anda. Selamat membaca.”

Dr. I Dewa Gede Palguna, S.H., M.Hum.

 

Kebiasaan-kebiasaan, customs dan traditions, adat istiadat unggul sudah terbukti keluhurannya sekaligus bersahabat dengan sesama makhluk serta selaras dengan lingkungan, melahirkan suatu budaya. Penerapan dari nilai-nilai luhur budaya itulah, yang kemudian, menentukan Kearifan Lokal suatu komunitas bahkan sebuah bangsa.

Bali, dengan keyakinannya pada konsep Desha, Kala, Patra – Kesiapsediaan untuk Berubah sesuai dengan Tuntutan Keadaan, Waktu dan Peran – telah terbukti keberhasilannya dalam pelestarian nilai-nilai luhur sekaligus membuatnya relevan dari masa ke masa.

Kiranya kita perlu belajar dari eksperimen yang dilakukan oleh Bali selama ini sehingga perubahan-perubahan yang memang mesti terjadi, tidak menggusur nilai-nilai luhur yang masih relevan.

HIDUP MATI DI SINI, MAU KE MANA LAGI? : KISAH-KISAH KEHIDUPAN MENEMBUS KELAHIRAN DAN KEMATIAN

“Janganlah membaca buku ini jika Anda belum siap untuk mendengar pendapat yang berbeda dari sudut pandang Anda selama ini.”

Kali ini, kita tidak membahas alam sana. Fokus kita kali ini adalah pada kehidupan dan kematian yang terjadi di alam ini; pada pasang surut yang kita alami di sini; dan, pada pengalaman suka dan duka yang silih berganti.

Buku ini diperuntukkan bagi mereka yang siap untuk menghadapi segala tantangan, termasuk kematian itu sendiri; mereka yang tidak berandai-andai, tidak berhalu-halu dan, dengan alasan apa pun tidak meninggalkan panggung sandiwara kehidupan di tengah pertunjukkan…

Persembahan ini dihaturkan kepada mereka yang memahami arti manusia dan kemanusiaan – bagi mereka yang sadar bila…

“Hidup di Sini, Mati pun di tempat ini…

“Alam sana dan alam sini, dua-duanya ada di tempat ini…

“Sorgaku di sini, neraka pun di sini… Mau ke mana lagi?”

BHAGAVAD GITA – YESTERDAY, TODAY & TOMORROW

Transcending all man made barriers and boundaries, Bhagavad Gita speaks to the entire humankind. Its message is as universal and expansive as the skies, the oceans, indeed, the space all around and engulfing us. It is as relevant today as it was more than 5000 years ago when Krishna, the Master Charioteer, delivered it to Arjuna. His cousin, friend, and disciple.

It is for this very reason that responding to an interviewer about who his superhero was, Joko Widodo, the 7th  President of the Republic of Indonesia mentioned “Krishna”. He further explained that in the Javanese tradition Krishna represents both Strength and Wisdom.

Similarly, Puan Maharani, grand daughter of Sukarno, the First President of the Republic, quoted a verse from the Bhagavad Gita in her inaugural speech as Speaker of the House of Representatives:

“Finally, I wish all of us good luck, karmanyevadhikaraste ma phaleshu kadachana… Let us fulfil our obligation without consideration of loss or gain. If we do not benefit from it, then our children or grandchildren may. History has given us opportunity, now it is up to us whether we want to regress, stagnate, or progress.”

ALAM SINI ALAM SANA – TIME MANAGEMENT DARI PERSPEKTIF SPIRITUAL

Buku ini bukanlah tentang Time Management dalam pengertian umum. Time Management umumnya dikaitkan dengan hidup sehari-hari di alam ini. Pertanyaannya, apakah alam ini dapat dipisahkan dari alam sana? Ma Mahamaya, Bunda Alam Semesta, menjelaskan:

“Tidak, tidak dapat dipisahkan. Alam adalah alam. Mereka yang bicara tentang dimensi keberapa dan berapa dimensi – mau tiga, lima, atau tiga ribu, tiga juta, lima juta dimensi, dan berjuta-juta lapisan alam – belum tahu kalau semuanya masih menjadi bagian dari alam ini juga…

“Alam sana hanyalah refleksi dari alam sini. Alam ini terasa nyata bagi mereka yang berada di alam ini, alam sana terasa tidak nyata. Sebaliknya, bagi mereka yang berada di alam sana, alam tempat kau berada saat ini adalah tidak nyata. Alam mereka adalah yang nyata.”

Sebab itu, Bunda menegaskan:

“Time Management menjadi sangat penting. Mereka yang berkhayal sudah berada di dimensi keberapa, atau sedang dalam perjalanan menuju dimensi keberapa – semuanya butuh mengelola waktu mereka dengan baik. Menyia-nyiakan waktu di sini berarti menyia-nyiakan waktu di sana. Menyia-nyiakan waktu di sana berarti menyia-nyiakan waktu di sini. Bingung?”

Ma selalu menikmati kebingungan kita. Buku ini adalah sebuah hadiah yang tak terhingga nilainya bagi kita semua yang sedang bingung dan berani mengakui, “Aku tidak tahu apa-apa Bunda, tuntunlah diriku, bantulah aku menghadapi dan mengatasi kebingunganku…”

KERAS LEMBEK: OKE DUA-DUANYE!

Dunia ini ibarat food court dengan bermacam-macam restoran yang tak terhitung jumlahnya. Di sini ada yang menjadi tamu, ada yang menjadi pelayan, dan ada pula yang berperan sebagai Juru Masak.

Buku ini diperuntukkan bagi para Juru Masak, yang tidak boleh dablek. Diberi bahan baku yang sama, beras misalnya, dia mesti tahu cara mengolahnya.

Mau masak nasi atau bubur, dua-duanya membutuhkan keahlian. Kelembekan, nasi menjadi bubur yang keras. Kekerasan, bubur menjadi nasi yang lembek. Ya, tidak boleh dong! Nasi mesti tetap nasi, bubur tetap bubur.

Antologi Dongeng Anti Dablek di tangan Anda ini bertujuan untuk menerangi dan mengakhiri kedablekan diri Anda, diri saya, diri kita masing-masing.

Kadang nasi, kadang bubur, kadang keras, kadang lembek – semuanya oke! Tapi, kita harus pintar-pintar menyajikan apa yang berkenan di hati mereka yang sedang kita layani.

Selamat menikmati sajian kali ini, sajian Dongeng-dongeng Anti Dablek, semoga berkenan di hati Tuan-Tuan dan Puan-Puan!

PAHIT PEKAT TAPI SEHAT JAMU GENDONG MAWAS DIRI

Seorang Guru bertemu dengan seorang bocah cilik yang sedang membawa pelita menuju kuil. Sang Guru pun bertanya, “Adakah yang menyuruh kamu untuk membawa pelita itu?”

“Guru, perasaan saya tidak ada yang perlu menyuruh-nyuruh kita untuk mencahai diri dan menyebarkan cahaya. Itu merupakan tanggung jawab kita semua.”

Mendengar jawaban itu Sang Guru sadar bila bocah cilik itu bukanlah anak biasa, dia adalah utusan Gusti untuk mengajarkan sesuatu padanha. Maka, ia bersujud dan mencium kakinya, “Katakan, wahai Mahaguru dari manakah cahaya pelita itu berasal?”

Anak kecil yang disebut Mahaguru itu tersenyum. Sambil menium pelitanya dia menjawab, “Sekarang cahaya itu tidak ada, hanyalah kegelapan yang ada. Ke mana perginya cahaya itu? Setiap orang yang bisa menjawab pertanyaan itu sudah pasti tahu dari mana cahaya itu berasal.”

Demikian Sang Guru mendapatkan seorang Mahaguru dalam diri bocah cilik itu, dan menemukan jawaban atas pertanyaannya.

Pencerahan, Inspirasi, nilai-nilai kehidupan dan sebagainya bisa datang dari mana saja, termasuk dari buku ini! Kata pepatah 𝗡𝗮𝘀𝗲𝗵𝗮𝘁 𝗶𝘁𝘂 𝘀𝗲𝗽𝗲𝗿𝘁𝗶 𝗝𝗮𝗺𝘂, 𝗽𝗮𝗵𝗶𝘁 𝗺𝗲𝗺𝗮𝗻𝗴 𝘂𝗻𝘁𝘂𝗸 𝗱𝗶𝗱𝗲𝗻𝗴𝗮𝗿 𝗻𝗮𝗺𝘂𝗻 𝗯𝗲𝗿𝗺𝗮𝗻𝗳𝗮𝗮𝘁 𝗷𝗶𝗸𝗮 𝗱𝗶𝗺𝗶𝗻𝘂𝗺.

𝗕𝘂𝗸𝘂 𝗶𝗻𝗶 𝗺𝗲𝗿𝘂𝗽𝗮𝗸𝗮𝗻 𝗸𝗼𝗺𝗽𝗶𝗹𝗮𝘀𝗶 𝗰𝗲𝗿𝗶𝘁𝗮-𝗰𝗲𝗿𝗶𝘁𝗮 𝗽𝗲𝗻𝗱𝗲𝗸 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝗮𝗸𝗮𝗻 𝗺𝗲𝗻𝘂𝗺𝗯𝘂𝗵𝗸𝗮𝗻 𝗿𝗮𝘀𝗮! Kebenaran seringkali menampar diri kita semata-mata untuk 𝙢𝙚𝙢𝙗𝙖𝙣𝙜𝙪𝙣𝙠𝙖𝙣 𝙟𝙞𝙬𝙖 𝙠𝙞𝙩𝙖, 𝙢𝙚𝙣𝙜𝙚𝙢𝙗𝙖𝙣𝙜𝙠𝙖𝙣 𝘾𝙞𝙣𝙩𝙖 dan 𝙄𝙣𝙨𝙥𝙞𝙧𝙖𝙨𝙞 bahkan 𝗺𝗲𝗺𝗯𝗲𝗿𝗶𝗸𝗮𝗻 𝗽𝗲𝗻𝗰𝗲𝗿𝗮𝗵𝗮𝗻 dalam perjalanan hidup ini. Cerita cerita ini ibarat pointers yang akan menuntun Anda menuju 𝗞𝗲𝗵𝗲𝗻𝗶𝗻𝗴𝗮𝗻 𝗗𝗶𝗿𝗶. Dan dalam Keheningan itu, Anda akan menemukan kekuatan, energi, dan semangat untuk bangkit dan melangkah menuju 𝗧𝘂𝗷𝘂𝗮𝗻 𝗛𝗶𝗱𝘂𝗽 𝗦𝗲𝗷𝗮𝘁𝗶

Jika sebelumnya Anda sudah mencicipi Asam Manis Secawan Anggur Pencerahan dan Panas Dingin Secangkir Kopi Kesadaran – maka kali ini terimalah persembahan Pahit Pekat tapi Sehat: Jamu Gendong Mawas Diri.

Selamat minum jamu Mawas Diri dan Jadilah Sehat Seutuhnya!

IKIGAI & BEYOND : KEBIJAKAN JEPANG KUNO BAGI MANUSIA MODERN

Sudah banyak buku tentang Ikigai, banyak tulisan, bahkan klip video yang bisa diakses secara gratis. Lalu, apakah kita membutuhkan sebuah buku baru tentangnya?

Ya, sangat dibutuhkan… Sebab, selama ini Ikigai lebih banyak dikaitkan dengan life span warga Okinawa secara khusus dan warga jepang secara umum. Usia rata-rata yang lebih panjang menjadi daya tarik utama.

* Namun, apakah usia panjang segala-galanya? Adakah Ikigai tentang hal itu saja?
* Bagaimana dan dengan apa usia panjang itu mesti diisi?

Ikigai juga tidak bisa dipisahkan dari nilai-nilai luhur dari Jepang Kuno, yang jarang dibicarakan.

Selain itu, penulis buku ini adalah orang Indonesia dengan pengalaman pribadi selama bekerja di Jepang. Ia mampu memberikan sentuhan-sentuhan khas Indonesia Kekinian pada Kebijakan kuno dari Jepang ini.

Silakan menikmati, melakoni Ikigai dalam keseharian hidup, sekaligus mempraktikkan Taiso, Olahraga khas Jepang dalam variannya yang paling mudah dan dapat dilakukan oleh siapa saja.

ROMANCING SINDH – TREADING AN UNCHARTERED TERRITORY WITH LOVE AND SONGS

“This book Romancing Sindh is a very fascinating book. He heard the “Oral history of Sindh” from his father and set out on the journey to explore his roots. While on this unusual journey he found some very preciuos nuggets of ancient History of Sindh and he has presented them in a very arresting manner. In this way his journey becomes the journey of the reader also. He links his internal journey of “Self” to this journey and the result is quite rewarding. A book worth cherishing.”

Mohan Gehani
Noted Sindhi Scholar, Playwright, Translator and Poet

“Romancing Sindh is a book that has a nuance of ‘Tender Memories in a heart that throbs’. From Memoirs to Memories centred round Mother’s love and wisdom, from nostalgia to reminiscence, from anecdotes to allegories, the author Sri Anand Krishna nudges on an array of diverse subjects ranging from history to everyday life-wisdom and finally scaling to the galaxies of spiritual mores. Each subsequent chapter seemingly merges seamlessly with awe inspiring narratives that leads you from Romancing with the mundane to Romancing with your inner self.”

Dayal N. Harjani aka Daduzen, Hongkong
Philanthropist & Author

 

“The separation from the land of ancestors, the legacy of the rich culture, the pain and joy, the comforts and teachings that a mother provides is evidently encompassed in the explanation of the Romance depicted through Sindhi soulful songs by Anand Krishna whom I choose to address as my Bhau (elder brother). The book is a journey through nostalgic moments and invokes the Sindhi cultural pride along with a Divine ecstasy as a lineage.”

Monica Gokaldas (Sikiladi), Nairobi
Founder Member, Sindhi Welfare Society & Poet

YOGA SUTRA PATANJALI BAGI ORANG MODERN

Patanjali, Sang Begawan memulai sutranya dengan penjelasan tentang pentingnya Yoga atau disiplin dalam hidup. Harta, kekayaan, kedudukan, kekuasaan, semuanya tidak mampu mengantar kita pada Alam Kebahagiaan Sejati. Alam itu adalah habibat Jiwa, alam kita yang sesungguhnya, yang hanya dapat kita capai dengan cara meniti jalan ke dalam diri. Itulah Yoga.

 

“Setelah membaca karya-karya Anand Krishna, pemahaman tentang Yoga yang saya peroleh adalah bahwa Yoga bukan saja untuk kesehatan fisik, tetapi juga untuk mengolah dan mengatur diet, pikiran, perasaan, waktu untuk istirahat dan bekerja, dan bahkan relasi antarmanusia dan antara manusia dan lingkungannya. Saya berharap bahwa buku ini dapat menyebarluaskan pemahaman yang sama pada masyarakat luas.”

dr. Janfrional Hutabarat Reg. Chiro

Dokter Umum & Ahli Chiropractor

“ Di zaman modern ini, ketika orang-orang semakin stress dan depresi karena tekanan sosial ekonomi, buku ini hadir memberikan jawaban atas pertanyaan yang tak ternilai harganya tentang cara menemukan tujuan hidup kita. Melalui Yoga sebagai gaya/jalan hidup, kita mampu membebaskan pikiran yang telah terkondisi oleh penderitaan, menyadari keilahian dan guna mencapai kebahagiaan abadi, ketenangan batin, dan merasakan kesatuan dengan Hyang Maha Ada.  Terima kasih dan hormat yang mendalam untuk Guruji Anand Krishna atas karyanya yang luar biasa ini.”

Tina Puncer

Terapis Soulwork

“Anand Ashram yang didirikan oleh Anand Krishna menyajikan Yoga sebagai gaya hidup dan dengan seutuhnya, bukan sebagai latihan untuk mengolah raga saja. Pemahaman Anand Krishna tentang Yoga adalah sebagaimana Yoga adanya, sesuai dengan tradisi yang sudah berusia ribuan tahun, sekaligus segar, baru, dan cocok bagi masa kini dan untuk dilakoni oleh manusia modern. Saya yakin, penjelasan beliau tentang Yoga Sutra ini sangat bermanfaat bagi pembaca.”

Maya Safira Muchtar

Ketua Umum Asosiasi Ayurveda, Meditasi & Yoga Indonesia (AMAYI)

LOVE – MAHA ANUBHAVA: THE ULTIMATE EXPERIENCE

“This book, a compilation of devotional poems offered through the voice of Krishna longing for union with Radha, is perhaps the first of its kind. Many have spoken of Radha’s separation from her Lord. The masses are familiar with the feminine consort being so at odds, so forlorn, of separation from her Beloved.

“Yes, Radha has been separated from her Beloved. But, so too, has Krishna with equal love and devotion for his counterpart, been enduring the pain of separation.

“This collection of poems, written in a similar voice as Mira, famous for her longing and her unabashed romance for her Lord, written by Anand Krishna, is a lament with the sweetness of a Lord simply longing for His Goddess, to once again soften, and walk once more in the ecstasy of eternal Togetherness, in the gardens of eternal Bliss.”

– Monica Dogra, International Artist.

THE SCIENCE OF FEAR MANAGEMENT & THE ART OF BEING HAPPY

“Jangan Takut, Hadapi segala Tantangan dengan Senyuman!” Ya, betul… tapi, bagaimana? Bagi seseorang yang sedang ketakutan, rasa takut itu sangat riil, nyata. Kecemasan, kegelisahan, dan sebagainya yang muncul akibat rasa takut pun riil, nyata – ia merasakan hingga ke sumsumnya.

Pun demikian dengan ungkapan, “Don’t Worry, be Happy!” Bagaimana tidak worry dan menjadi happy ketika kekhawatiran menyelimuti diri kita? Ketika perasaan dan pikiran yang kacau sudah berdampak pada kesehatan?

Buku ini tidak mengajak Anda meninabobokan mind atau gugusan pikiran serta perasaan, seolah all is well, tidak ada yang perlu ditakutkan dan dikhawatirkan. Lewat edisi perluasan dari 2 buku bestseller sebelumnya, penulis mengajak Anda untuk memahami rasa takut, untuk membedah rasa khawatir dan menemukan akar dari persoalan yang membuat Anda takut dan khawatir.

Buku ini ibarat sabit untuk membantu Anda membersihkan pekarangan diri dari ilalang rasa takut, kekhawatiran dan sebagainya – supaya apa pun yang ditanam kemudian akan tumbuh tanpa gangguan.

“The Science of Fear Management & the Art of Being Happy” bukanlah tentang Positive Thinking, tetapi tentang Positive Attitude terhadap hidup!

Video

News & Articles

Selamat & Sukses Atas Terpilihnya Pengurus PHDI 2021 – 2026

 

read more

Mahasabha XII Parisaba Hindhi Dharma Indonesia

read more

Rahajeng Rahina Suci Galungan Lan Kuningan

read more

Yoga Sutra Patanjali

11.49 Tasmin sati śvāsa-praśvāsyor-gati-vicchedaḥ prāņāyāmaḥ "Setelah menguasai āsana, gati atau kecepatan napas yang masuk dan…

read more
Need Help? Chat with us